Sabtu, 26 Oktober 2013

Contoh RPP kelas IV Kurikulum 2013

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

      Satuan Pendidikan :  SDIT Salsabila
      Kelas / Semester    :   IV/I
      Tema / Sub Tema   :   Indahnya Kebersamaan/I
                         Pembelajaran Ke      :   I
                         Alokasi Waktu          :   6 x 35 menit


A.   KOMPETENSI INTI

1.     Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
2.    Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya.
3.     Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan bertanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah ,sekolah, dan tempat bermain.
4.    Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis, dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.


B.   KOMPETENSI DASAR
-       PPKn
1.1.Menghargai kebhineka-tunggalikaan dan keberagaman agama, suku bangsa, pakaian tradisional, bahasa, rumah adat, makanan khas, upacara adat, sosial, dan ekonomi di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat sekitar.
1.2. Menghargai kebersamaan dalam keberagaman sebagai anugrah Tuhan Yang Maha Esa di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat sekitar.
4.4. Mengelompokkan kesamaan identitas suku bangsa (pakaian tradisonal, bahasa, rumah adat, makanan khas, dan upacara adat, sosial ekonomi (jenis pekerjaan orangtua) di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat sekitar.

-       IPS
3.5.Memahami manusia dalam dinamika interaksi dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi.
4.5. Menceritakan manusia dalam dinamika interaksi dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi.


-       SBdP
3.3. Membedakan panjang-pendek bunyi, dan tinggi-rendah nada dengan gerak tangan.
4.5. Menyanyikan lagu dengan gerak tangan dan badan sesuai dengan tinggi rendah nada.

-       Bahasa Indonesia
3.1. Menggali informasi dari teks laporan hasil pengamatan tentang gaya, gerak, energi panas, bunyi dan cahaya dengan bantuan guru dan teman dalam bahasa lisan dan tulis dengan memilih dan memilah bahasa baku.
4.1. Mengamati, mengolah dan menyajikan teks laporan hasil pengamatan tentang gaya, gerak, energi panas, bunyi dan cahaya dalam bahasa lisan dan tulis dengan memilih dan memilah bahasa baku.

C.   INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

-       PPKn
a. Menjelaskan keberagaman yang ada di Indonesia dalam bentuk tulisan.
b. Menjelaskan ciri khas suku Minang dalam bentuk tulisan.
c. Menjelaskan contoh perilaku sebagai bentuk kebanggaan menjadi anak Indonesia.
-       IPS
a. Menjelaskan sikap yang harus ditunjukkan untuk menghormati keberagaman dalam bentuk tulisan.
-       SBdP
a. Menyanyikan lagu “Aku Anak Indonesia” dengan tinggi rendah nada yang sesuai.
-       Bahasa Indonesia
a. Mengolah informasi dan teks “Mengenal Suku Minang” dalam bentuk peta pikiran.
        
             
D.  TUJUAN PEMBELAJARAN

a.  Setelah mengamati gambar dan diskusi kelas, siswa mampu menjelaskan keberagaman yang ada di Indonesia dalam bentuk tulisan dengan benar.
b.  Setelah membaca teks “Mengenal Suku Minang”, siswa mampu mengolah informasi dalam bentuk peta pikiran dengan benar.
c.  Setelah mencari informasi keragaman teman sekelasnya dan berdiskusi, siswa mampu menjelaskan sikap yang harus ditunjukkan untuk menghormati keberagaman dalam bentuk tulisan dengan benar.
d.  Setelah bernyanyi dan berdiskusi, siswa mampu menuliskan contoh perilaku sebagai bentuk kebanggaan menjadi anak Indonesia dengan benar.
e.  Setelah bernyanyi dan berdiskusi, siswa mampu membedakan tinggi rendah notasi yang sesuai.

E.   MATERI PEMBELAJARAN

-       Mengenal keberagaman budaya Indonesia
a. Rumah adat
b. Tarian daerah
c. Makanan khas
d. Pakaian tradisional
e. Musik tradisional

-       Memahami keberadaan budaya
Keberagaman pada teman-teman satu kelas.

-       Berekspresi dengan lagu
Menyanyikan lagu “Aku Anak Indonesia” karya AT.Mahmud


F.    MODEL, PENDEKATAN & METODE PEMBELAJARAN

Model              : Pembelajaran Kooperatif picture and picture
Pendekatan     :  Scientific
Metode            : Diskusi, unjuk kerja, tanya jawab,penugasan

G.    KEGIATAN  PEMBELAJARAN
Aktivitas KBM dengan pendekatan saintifik
Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Alokasi
Waktu






Pendahuluan
a. Guru memberikan salam dan mengajak semua siswa berdoa (religius)
b. Melakukan komunikasi tentang kehadiran siswa.
c. Meminta informasi mengenai kegiatan piket kelas dan memberi penguatan tentang pentingnya kebersihan kelas dengan kenyamanan.
d. Mengajak siswa mengamati video tentang keberagaman budaya Indonesia.
e. Menginformasikan tema yang akan diajarkan yaitu tentang “Indahnya Kebersamaan”
f.  Siswa dengan cermat menyimak tujuan pembelajaran yang dibaca oleh guru.






15 menit




















Inti
a.    Siswa mengamati peta budaya, perbedaan pakaian adat, rumah adat, tarian adat, dan alat musik tradisional.
b.    Guru membentuk kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa setiap kelompoknya dan mengatur meja dan kursi agar mendukung diskusi.
c.    Masing-masing kelompok berdiskusi tentang  pertanyaan yang ada pada buku siswa.
d.    Guru mengamati jalannya diskusi dan berkeliling untuk mengetahui apakah kelompok memiliki kesulitan dalam menyelesaikan tugas.
e.    Siswa menyajikan hasil diskusi secara berkelompok.
f.     Guru memberi motifasi agar siswa berani mengungkapkan pendapatnya.
g.    Siswa diminta membaca teks “Mengenal Suku Minang” .
h.   Setelah itu, siswa diminta menyajikan informasi teks dalam bentuk peta pikiran.
i.     Pada saat membuat peta pikiran, guru memberikan beberapa pertanyaan agar siswa dapat memahami dan menuliskannya sesuai dengan harapan.
Pertanyaan:
1.     Apa nama rumah adat suku Minang?
2. Apa bahasa yang digunakan oleh suku Minang?
3.  Apa makanan tradisional suku Minang?
j.     Siswa secara berpasangan mencoba mendiskusikan hasil jawaban tersebut di depan kelas.
k.    Secara individu, siswa diminta menjawab pertanyaan pada buku siswa halaman 5.
l.      Setelah itu, siswa diminta mencari asal-usul daerah teman-temannya melalui kegiatan bertanya-jawab tentang suku, agama, dan ciri khas daerah masing-masing.
m.  Siswa menuliskan hasil wawancara dengan mengisi tabel wawancara.
n.   Guru berkeliling mengamati kerjasama anak dalam megerjakan tugas.
o.    Guru menilai kerjasama, keaktifan, dan kedisiplinan selama diskusi.
p.    Siswa menjawab pertanyaan pada buku siswa halaman 7.
q.    Siswa diminta mengisi tabel tentang sikap yang berkaitan dengan keberagaman (halaman 7).
r.     Setelah melakukan kegiatan di atas, guru mengajak siswa bernyanyi “Aku Anak Indonesia”  dengan notasi lagu dan tinggi rendah nada.
s.    Guru memberikan perhatian kepada siswa yang belum bisa menyanyikan lagu sesuai notasi yang benar.
t.     Siswa diminta mendiskusikan isi dan makna lagu “Aku Anak Indonesia” dalam kelompoknya.
u.   Setiap kelompok berpresentasi di depan kelas.
v.    Siswa diberi penguatan tentang pentingnya memiliki kebanggaan menjadi anak Indonesia.
w.   Siswa diminta menulis 3 contoh perilaku yang menunjukkan bangga sebagai anak Indonesia.
x.    Siswa diminta menjawab pertanyaan perenungan yang ada pada buku siswa halaman 8.
y.    Hasil kegiatan dan diskusi siswa ditempel di papan, dilanjutkan dengan menasehati siswa tentang pentingnya menghargai perbedaan,





















180 menit






Penutup
a.    Bersama-sama siswa membuat kesimpulan hasil belajar selama satu hari.
b.    Guru melakukan penilaian hasil pembelajaran.
c.    Guru menutup pelajaran dengan berdoa.




15 menit






H.    SUMBER DAN  MEDIA PEMBELAJARAN

1.   Sumber Pembelajaran:
a. Diri anak
b. Lingkungan sekolah
c. Lingkungan keluarga
d. Buku Tematik Siswa Kelas IV
e. Buku Tematik Guru Kelas IV
         
2.   Media Pembelajaran
a. Peta budaya Indonesia
b. LCD/Infocus
c. Chart lagu “ Aku Anak Indonesia”

I.      PENILAIAN PEMBELAJARAN

  1. Prosedur Penilaian
a. Observasi (terlampir)
b. Wawancara (terlampir)

  1. Instrumen Penilaian
a.    Penilaian sikap (terlampir)
b.   Penilaian Hasil Belajar (terlampir)
c.    Penilaian keterampilan (terlampir)
d.   Daftar periksa peta pikiran (terlampir)




Bogor, 12 September 2013
Guru Kelas



Indra Lesmana
NIP .-

Mengetahui

Instruktur II                                                         Instruktur I




..................................                                           ....................................
NIA .-                                                                    NIA.-

Kamis, 11 April 2013

Kumpulan Puisi Siswa SDIT Salsabila

Kumpulan puisi siswa dan siswa SDIT Salsabila Bekasi hasil pembalajaran Bahasa Indonesia dengan Kompetensi Dasar, "Menulis Puisi Berdasarkan Gagasan Pokok".
Puisi Karya Khansa Luthfiyah.D kelas 5B
PELANGI PAGI
Pelangi pagi
Kau sangat indah di mata kami
Menawan hati bagai melati
Yang indah menari-nari ditemani sang mentari

Tujuh warna yang dipadukan menjadi satu jiwa
Yang paras rupanya bagai sang telaga
Yang berpadu serasi di matanya
Itulah indah ciptaan-Nya

Setelah sebuah badai menimpa langit kita
Kau datang untuk meredakannya
Sebuah kemarahan langit untuk keberapa kalinya
Kau selalu menghiasi jalan bagi kehidupan kita semua

Puisi karya Hudzaifah kelas 5A
PERBEDAAN KOTA DAN DESA

Lihatlah kawan
Perbedaan di desa dan di kota

Di desa bila hendak subuh
Berkokok membangunkan orang untuk salat Subuh
Di kota bila hendak Subuh
Banyak orang yang masih tertidur

Di kota asap mengepul
Di desa udara segar
Di desa pohon tumbuh rindang
Di kota gedung menjulang tinggi

Di kota cadangan air sudah menipis
Di desa cadangan air melimpah
Sadarlah manusia
Akan kepentingan alam

Sabtu, 29 Desember 2012

GURU DI MATA GURU

Pada saat kapankah guru mendapat kesenangan ? Pada saat akhir tahun pelajarankah ? Pada saat menerima honorkah ? atau apa ? Barangkali kalau saya ditanya, saya akan menjawab: saya akan senang,puas dan bangga jika siswa saya sukses dalam  Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Sementara inti dari KBM itu sendiri adalah terjadinya perubahan positif pada pengetahuannya, kepribadiannya, pertemanannya dan terakhir yang paling penting adalah akidah dan akhlaknya.

Dari sisi lain, kesenangan saya bertambah sangat dengan diakuinya pekerjaan guru sebagai sebuah profesi oleh Pemerintah yang patut diperhitungkan. Konsekuensi dari itu, sudah selayaknya profesi guru bukanlah profesi buangan dalam arti daripada tidak ada pekerjaan, lebih baik jadi guru saja. Kenyataan ini menjadi sebuah fenomena sebagaimana yang dikatakan oleh Nana Sudjana secara makna bahwa pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain.

Buat rekan-rekanku yang pada tahun ajaran ini berpindah tugas di tempat lain, saya ucapkan selamat semoga antum dapat mengajar dengan baik dalam suasana dan lingkungan sekolah yang baru. Dimanapun kita bertugas, tetaplah harus menjunjung tinggi rasa profesionalitas kita sebagai guru.

MENGOPTIMALKAN KOMPETENSI PESERTA DIDIK MELALUI PEMBELAJARAN BERMAKNA

Istilah pembelajaran (instruction) itu menunjukkan pada usaha siswa mempelajari bahan pelajaran sebagai akibat perlakuan guru. Disini jelas, proses pembelajaran yang dilakukan siswa tidak mungkin terjadi tanpa perlakuan guru. 


Yang membedakannya hanya terletak pada peranannya saja. Ada tiga prinsip penting yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran. Pertama, proses pembelajaran adalah membentuk kreasi lingkungan yang dapat membentuk atau merubah struktur kognitif siswa. 

Tujuan pengaturan lingkungan ini dimaksudkan untuk menyediakan pengalaman belajar yang memberi latihan-latihan penggunaan fakta-fakta. Kedua, berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang harus dipelajari. 

Ada tiga tipe pengetahuan yang masing-masing memerlukan situasi yang berbeda dalam mempelajarinya. Pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisis, sosial dan logika. 

Pengetahuan fisis adalah pengetahuan akan sifat-sifat fisis dari suatu objek atau kejadian seperti bentuk, besar, berat, serta bagaimana objek itu berinteraksi satu dengan yang lainnya. 

Pengetahuan fisis diperoleh melalui pengalaman indra secara langsung. Misalkan anak memegang kain sutra yang terasa halus, atau memegang logam yang bersifat keras dan lain sebagainya. 

Pengetahuan sosial berhubungan dengan perilaku individu dalam suatu sistem sosial atau hubungan antara manusia yang dapat mempengaruhi interaksi sosial. Contoh pengetahuan tentang aturan, hukum, moral, nilai, bahasa dan lain sebagainya. 

Pengetahuan tentang hal di atas, muncul dalam budaya tertentu sehingga dapat berbeda antara kelompok yang satu dengan yang lain. Pengetahuan sosial tidak dapat dibentuk dari suatu tindakan seseorang terhadap suatu objek, tetapi dibentuk dari interaksi seseorang dengan orang lain. 

Pengetahuan logika berhubungan dengan berpikir matematis, yaitu pengetahuan yang dibentuk berdasarkan pengalaman dengan suatu objek dan kejadian tertentu. Pengetahuan ini didapatkan dari abstraksi berdasarkan koordinasi relasi atau penggunaan objek. 

Pengetahuan logis hanya akan berkembang manakala anak berhubungan dan bertindak dengan suatu objek, walaupun objek yang dipelajarinya tidak memberikan informasi atau tidak menciptakan pengetahuan matematis. 

Pengetahuan ini diciptakan dan dibentuk oleh pikiran individu itu sendiri, sedangkan objek yang dipelajarinya hanya bertindak sebagai media saja. 

Ketiga, dalam proses pembelajaran harus melibatkan peran lingkungan sosial. Anak akan lebih baik mempelajari pengetahuan logika dan sosial dari temannya sendiri. Melalui pergaulan dan hubungan sosial, anak akan belajar lebih efektif dibandingkan dengan belajar yang menjauhkan dari hubungan sosial. 

Oleh karena, melalui hubungan sosial itulah anak berinteraksi dan berkomunikasi, berbagi pengalaman dan lain sebagainya, yang memungkinkan mereka berkembang secara wajar.

Selama menjalani proses kehidupannya, dari mulai lahir sampai dengan akhir hayatnya manusia tidak akan terlepas dari persoalan atau masalah. Selama kehidupannya manusia memiliki tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut manusia akan dihadapkan pada berbagai rintangan. 

Manakala ia berhasil mencapai rintangan itu, selanjutnya ia akan dihadapkan pada tujuan baru yang semakin berat, manakala ia berhasil mengatasi rintangan itu, maka segera akan muncul tujuan yang lain, demikianlah kehidupan manusia. 

Dengan demikian, maka proses pembelajaran harus diarahkan agar siswa mampu mengatasi setiap tantangan dan rintangan dalam kehidupan yang cepat berubah, melalui sejumlah kompetensi yang harus dimiliki, yang meliputi, kompetensi akademik, kompetensi okupasional, kompetensi kultural dan kompetensi temporal. 

Itulah sebabnya, makna belajar bukan hanya mendorong anak agar mampu menguasai sejumlah materi pelajaran akan tetapi bagaimana agar anak itu memiliki sejumlah kompetensi untuk mampu menghadapi rintangan yang muncul sesuai dengan perubahan pola kehidupan masyarakat.

Ditulis oleh H.Supyanto,M.Pd
Kepala SDN Duren Jaya II Bekasi Timur

Selasa, 10 Juli 2012

PENGERTIAN PENGUKURAN


             Sebelum berbicara lebih jauh mengenai pengertian pengukuran, terlebih dahulu perlu dipahami bahwa dalam praktek sering kali terjadi kerancuan atau tumpang tindih (overlap) penggunaan isltilah “evaluasi”, “penilaian”, dan ”pengukuran”. Kejadian ini dapat difahami karena antara ketiga istilah tersebut ada saling keterkaitan. Uraian berikut ini dapat membantu dalam memperjelas perbedaan serta hubungan antara evaluasi, penilaian, dan pengukuran.
            Evaluasi yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Evaluation adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan, sampai sejauh mana tujuan atau program telah tercapai (Gronlund, 1985).
            Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Wrightstione, dkk (1956) yang mengemukakan bahwa evaluasi pendidikan adalah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan dalam kurikulum.
            Evaluasi dapat juga diartikan sebagai proses menilai sesuatu berdasarkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan, yang selanjutnya diikuti dengan pengambilan keputusan atas objek yang dievaluasi. Sebagai contoh evaluasi proyek, kriterianya adalah tujuan dari pembangunan proyek tersebut, apakah tercapai atau tidak., apakah sesuai dengan rencana atau tidak, jika tidak mengapa terjadi demikian, dan langkah-langkah apa yang perlu ditempuh selanjutnya. Hasil dari kegiatan evaluasi adalah bersifat kualitatif.
            Anas Sudijono (1996) mengemukakan bahwa evaluasi pada dasarnya merupakan penafsiran atau interpretasi yang bersumber pada data kuantitatif, sedang data kuantitatif merupakan hasil dari pengukuran. Berbeda dengan evaluasi, penilaian yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Assessment berarti menilai sesuatu. Menilai itu sendiri berarti mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan mengacu pada ukuran tertentu, seperti menilai baik atau buruk, sehat atau sakit, pandai atau bodoh, tinggi atau rendah, dan sebagainya.
            Dari pengertian ini maka antara penilaian dengan evaluasi hampir sama, bedanya dalam evaluasi berakhir dengan pengambilan keputusan sedangkan penilaian hanya sebatas memberikan nilai saja. Penilaian merupakan suatu tindakan atau proses menentukan nilai sesuatu obyek. Penilaian adalah suatu keputusan tentang nilai. Penilaian dapat dilakukan berdasarkan hasil pengukuran atau dapat pula dipengaruhi oleh hasil pengukuran.
            Pengukuran yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah measurement adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengukur dalam arti memberi angka terhadap sesuatu yang disebut obyek pengukuran atau obyek ukur. Mengukur pada hakekatnya adalah pemasangan atau korespondensi 1-1 antara angka yang diberikan dengan fakta yang diberi angka atau diukur.
            Secara konseptual angka-angka hasil pengukuran pada dasarnya adalah kontinum yang bergerak dari suatu kutub ke kutub lain yang berlawanan, misalnya dari rendah ke tinggi yang diberi angka dari 0 sampai 100, dari negatif ke positif yang juga diberi angka dari 0 sampai 100, dari otoriter ke demokratik yang juga diberi angka dari 0 sampai 100, dari dependen ke independent yang juga diberi angka dari 0 sampai 100, dan sebagainya. Rentangan angka yang diberikan tidak selalu harus dari 0 sampai 100 tetapi dapat pula menggunakan rentangan lain misalnya dari 10 sampai 50, dari 20 sampai 100, atau dari 30 sampai 150, dan sebagainya, yang penting ukuran dari fakta-fakta yang hendak diukur dari suatu obyek ukur harus merupakan rentangan kontinum yang bergerak dari suatu kutub ke kutub lain yang berlawanan.
            Kalau evaluasi dan penilaian bersifat kualitatif, maka pengukuran selalu bersifat kuantitatif. Alat yang dipergunakan dalam pengukuran dapat berupa alat yang baku secara internasional, seperti meteran, timbangan, stopwatch, termometer, dan lain-lain, dan dapat pula berupa alat yang dibuat dan dikembangkan sendiri dengan mengikuti proses pengembangan atau pembakuan instrumen.
            Menurut Cangelosi (1991) pengukuran adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris. Pengertian yang lebih luas mengenai pengukuran dikemukakan oleh Wiersma dan Jurs (1990) bahwa pengukuran adalah penilaian numerik terhadap fakta-fakta dari obyek yang hendak diukur menurut kriteria atau satuan-satuan tertentu.
            Pengukuran dapat diartikan sebagai proses memasangkan fakta-fakta sesuatu, obyek dengan satuan-satuan ukuran tertentu, sedangkan penilaian adalah suatu proses membandingkan sesuatu obyek atau gejala dengan mempergunakan patokan-patokan tertentu seperti baik tidak baik, memadai tidak memadai, memenuhi syarat tidak memenuhi syarat, dan sebagainya.
            Berdasarkan beberapa pengertian evaluasi, penilaian dan pengukuran yang dikemukakan di atas jelas bahwa evaluasi, penilaian, dan pengukuran merupakan tiga konsep yang berbeda. Namun demikian dalam praktek, terutama dalam dunia pendidikan, ketiga konsep tersebut sering dipraktekan dalam suatu rangkaian kegiatan. Sebagai contoh pelaksanaan evaluasi di sekolah di dalamya terintegrasi kegiatan pengukuran dan penilaian.
Tabel berikut dapat lebih memperjelas perbedaan pengukuran, penilaian, dan evaluasi.
Tabel 1. Hasil Ujian Mata Kulia Tes dan Pengukuran
Peserta
Skor
Nilai
Keputusan
Pata Bundu
85
B (plus)
Lulus amat baik
Sunandar
87
A (min)
Lulus paling baik
Arifin Ahmad
75
B
Lulus baik
Pudji Muljono
90
A
Lulus sangat baik
Ramly
80
B
Lulus baik
Sidin Ali
86
B (plus)
Lulus baik
Rusgianto
75
B
Lulus baik
Tukas Imaroh
80
B
Lulus baik
Emi Sola
87
A (min)
Lulus paling baik

Keterangan :
  1. Skor merupakan hasil kegiatan pengukuran
  2. Kategori A, A-, B+, dan B adalah hasil kegiatan penilaian
  3. Klasifikasi lulus Lulus baik, Lulus amat baik, dan Lulus sangat baik adalah merupakan hasil evaluasi. 
sumber : Pengukuran dalam Bidang Pendidikan oleh Prof. Djaali, dkk, UNJ