Tampilkan postingan dengan label Info Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 September 2021

PJJ Menjadi Seru & Menyenangkan

 Halo Pembaca yang Budiman
Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Akhir-akhir ini,sering kita mendengar istilah online atau dalam jaringan (daring) dalam setiap kegiatan. Ya, semenjak pandemi Covid-19, aktivitas sehari-hari setiap orang dibatasi demi untuk mencegah tersebarnya pandem ini. Termasuk juga kegiatan belajar dan mengajar di sekolah. 

Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan bagaimana agar PBM ini tetap berlangsung di tengah pandemi yang melanda dunia. Ya, pembelajaran berbasis online yang dikenal dengan istilah Pembelajaran Jarak Jauh, Belajar dari Rumah, dan belajar daring menjadi pilihan demi tetap berlangsungnya pendidikan  di Indonesia.

Bagaimana sih agar PJJ kita menyenangkan? Nah, pada tulisan ini, saya susun beberapa lembaga yang melakukan kegiatan  PJJ dengan berbagai metode yang menarik. Apa sajakah itu? Silakan unduh slide di bawah ini!

PJJ Menjadi Seru & Menyenangkan

Selamat menikmati hidangan anda di rumah masing-masing.

Rabu, 16 September 2020

Dampak Televisi Terhadap Kehidupan Sosial Budaya

 Pembaca yang Budiman

Seiring perkembangan zaman dan adanya wabah Covid-19 ini, kita dituntut untuk menyesuaikan dengan kehidupan baru normal (New Normal Live). Adanya peralatan yang berbasis teknologi mau tidak mau, suka atau tidak suka harus kita miliki.

Video pembelajaran ini diperuntukkan untuk Adik-adik yang sedang belajar dari rumah. Materi kelas 6 SD tematik tema 3 Tokoh dan Penemuan.

Yuk kita simak videonya.





Selasa, 10 Juli 2012

PENGERTIAN PENGUKURAN


             Sebelum berbicara lebih jauh mengenai pengertian pengukuran, terlebih dahulu perlu dipahami bahwa dalam praktek sering kali terjadi kerancuan atau tumpang tindih (overlap) penggunaan isltilah “evaluasi”, “penilaian”, dan ”pengukuran”. Kejadian ini dapat difahami karena antara ketiga istilah tersebut ada saling keterkaitan. Uraian berikut ini dapat membantu dalam memperjelas perbedaan serta hubungan antara evaluasi, penilaian, dan pengukuran.
            Evaluasi yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Evaluation adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan, sampai sejauh mana tujuan atau program telah tercapai (Gronlund, 1985).
            Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Wrightstione, dkk (1956) yang mengemukakan bahwa evaluasi pendidikan adalah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan dalam kurikulum.
            Evaluasi dapat juga diartikan sebagai proses menilai sesuatu berdasarkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan, yang selanjutnya diikuti dengan pengambilan keputusan atas objek yang dievaluasi. Sebagai contoh evaluasi proyek, kriterianya adalah tujuan dari pembangunan proyek tersebut, apakah tercapai atau tidak., apakah sesuai dengan rencana atau tidak, jika tidak mengapa terjadi demikian, dan langkah-langkah apa yang perlu ditempuh selanjutnya. Hasil dari kegiatan evaluasi adalah bersifat kualitatif.
            Anas Sudijono (1996) mengemukakan bahwa evaluasi pada dasarnya merupakan penafsiran atau interpretasi yang bersumber pada data kuantitatif, sedang data kuantitatif merupakan hasil dari pengukuran. Berbeda dengan evaluasi, penilaian yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Assessment berarti menilai sesuatu. Menilai itu sendiri berarti mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan mengacu pada ukuran tertentu, seperti menilai baik atau buruk, sehat atau sakit, pandai atau bodoh, tinggi atau rendah, dan sebagainya.
            Dari pengertian ini maka antara penilaian dengan evaluasi hampir sama, bedanya dalam evaluasi berakhir dengan pengambilan keputusan sedangkan penilaian hanya sebatas memberikan nilai saja. Penilaian merupakan suatu tindakan atau proses menentukan nilai sesuatu obyek. Penilaian adalah suatu keputusan tentang nilai. Penilaian dapat dilakukan berdasarkan hasil pengukuran atau dapat pula dipengaruhi oleh hasil pengukuran.
            Pengukuran yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah measurement adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengukur dalam arti memberi angka terhadap sesuatu yang disebut obyek pengukuran atau obyek ukur. Mengukur pada hakekatnya adalah pemasangan atau korespondensi 1-1 antara angka yang diberikan dengan fakta yang diberi angka atau diukur.
            Secara konseptual angka-angka hasil pengukuran pada dasarnya adalah kontinum yang bergerak dari suatu kutub ke kutub lain yang berlawanan, misalnya dari rendah ke tinggi yang diberi angka dari 0 sampai 100, dari negatif ke positif yang juga diberi angka dari 0 sampai 100, dari otoriter ke demokratik yang juga diberi angka dari 0 sampai 100, dari dependen ke independent yang juga diberi angka dari 0 sampai 100, dan sebagainya. Rentangan angka yang diberikan tidak selalu harus dari 0 sampai 100 tetapi dapat pula menggunakan rentangan lain misalnya dari 10 sampai 50, dari 20 sampai 100, atau dari 30 sampai 150, dan sebagainya, yang penting ukuran dari fakta-fakta yang hendak diukur dari suatu obyek ukur harus merupakan rentangan kontinum yang bergerak dari suatu kutub ke kutub lain yang berlawanan.
            Kalau evaluasi dan penilaian bersifat kualitatif, maka pengukuran selalu bersifat kuantitatif. Alat yang dipergunakan dalam pengukuran dapat berupa alat yang baku secara internasional, seperti meteran, timbangan, stopwatch, termometer, dan lain-lain, dan dapat pula berupa alat yang dibuat dan dikembangkan sendiri dengan mengikuti proses pengembangan atau pembakuan instrumen.
            Menurut Cangelosi (1991) pengukuran adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris. Pengertian yang lebih luas mengenai pengukuran dikemukakan oleh Wiersma dan Jurs (1990) bahwa pengukuran adalah penilaian numerik terhadap fakta-fakta dari obyek yang hendak diukur menurut kriteria atau satuan-satuan tertentu.
            Pengukuran dapat diartikan sebagai proses memasangkan fakta-fakta sesuatu, obyek dengan satuan-satuan ukuran tertentu, sedangkan penilaian adalah suatu proses membandingkan sesuatu obyek atau gejala dengan mempergunakan patokan-patokan tertentu seperti baik tidak baik, memadai tidak memadai, memenuhi syarat tidak memenuhi syarat, dan sebagainya.
            Berdasarkan beberapa pengertian evaluasi, penilaian dan pengukuran yang dikemukakan di atas jelas bahwa evaluasi, penilaian, dan pengukuran merupakan tiga konsep yang berbeda. Namun demikian dalam praktek, terutama dalam dunia pendidikan, ketiga konsep tersebut sering dipraktekan dalam suatu rangkaian kegiatan. Sebagai contoh pelaksanaan evaluasi di sekolah di dalamya terintegrasi kegiatan pengukuran dan penilaian.
Tabel berikut dapat lebih memperjelas perbedaan pengukuran, penilaian, dan evaluasi.
Tabel 1. Hasil Ujian Mata Kulia Tes dan Pengukuran
Peserta
Skor
Nilai
Keputusan
Pata Bundu
85
B (plus)
Lulus amat baik
Sunandar
87
A (min)
Lulus paling baik
Arifin Ahmad
75
B
Lulus baik
Pudji Muljono
90
A
Lulus sangat baik
Ramly
80
B
Lulus baik
Sidin Ali
86
B (plus)
Lulus baik
Rusgianto
75
B
Lulus baik
Tukas Imaroh
80
B
Lulus baik
Emi Sola
87
A (min)
Lulus paling baik

Keterangan :
  1. Skor merupakan hasil kegiatan pengukuran
  2. Kategori A, A-, B+, dan B adalah hasil kegiatan penilaian
  3. Klasifikasi lulus Lulus baik, Lulus amat baik, dan Lulus sangat baik adalah merupakan hasil evaluasi. 
sumber : Pengukuran dalam Bidang Pendidikan oleh Prof. Djaali, dkk, UNJ

Rabu, 29 April 2009

Pembelajaran Kelas Rangkap

PEMBELAJARAN KELAS RANGKAP
Bagaimana pembelajaran bisa berjalan baik dan efektif, jika gurunya saja tidak lengkap, apalagi para murid tidak mempunyai buku-buku yang diperlukan? Jika murid-murid pada setiap kelas hanya sedikit, bagaimana kita mengoptimalkan pembelajaran, tanpa memubazirkan tenaga guru, seperti di daerah-daerah terpencil untuk kasus pertama dan di daerah-daerah dimana jumlah murid sekolah cenderung menurun.
Salah satu Kiat utama untuk menanggulangi masalah ini adalah pelaksanaan Pembelajaran Kelas`Rangkap.

Pada tahun 2002 Ibu Lynne Hill, seorang pakar pendidikan dari Australia, telah membantu Program CLCC-MBS melalui UNESCO dalam menangani masalah Pembelajaran Kelas Rangkap. Ibu Lynne telah melihat keadaan lapangan di Jawa Timur, NTB dan Sulsel dan berdasarkan pengamatan serta loka karya lokal telah memberikan masukan-masukan pada para praktisi lapangan serta membuat satu Pedoman Pembelajaran Kelas Rangkap yang bisa menjadi panduan bagi para praktisi di lapangan. Pokok bahasan Buku pedoman itu dapat disimpulkan seperti berikut:
Apa dan Bagaimana Pembelajaran Kelas Rangkap ?
Pembelajaran Kelas Rangkap merupakan model pembelajaran dengan mencampur beberapa siswa yang terdiri dari dua atau tiga tingkatan kelas dalam satu kelas dan pembelajaran diberikan oleh satu guru saja untuk beberapa waktu. Pembelajaran kelas rangkap sangat menekankan dua hal utama, yaitu kelas digabung secara terintegrasi dan pembelajaran terpusat pada siswa sehingga guru tidak perlu berlari-lari antara dua ruang kelas untuk mengajar dua tingkatan kelas yang berbeda dengan program yang berbeda. Namun murid dari dua kelas bekerja secara sendiri-sendiri di ruangan yang sama, masing-masing duduk di sisi ruang kelas yang berlainan dan diajarkan program yang berbeda oleh satu guru.

Mengapa Pembelajaran Kelas Rangkap Ada dan Dibutuhkan?
Di Indonesia, pembelajaran kelas rangkap dipandang perlu karena terkait adanya kekurangan guru. Hampir semua sekolah-sekolah di daerah terpencil jumlah gurunya hanya 2-3 orang saja dan siswanya amat sedikit dengan hanya beberapa orang dalam tiap kelas, sehingga mereka harus digabung dengan kelas lain dan diajar oleh satu guru. Adalah tidak mungkin memberikan satu orang guru untuk satu kelas yang hanya dihuni oleh 3-4 murid saja.

Mengelola Pembelajaran di Ruangan Kelas Rangkap
Ada sejumlah strategi pembelajaran yang dapat digunakan oleh seorang guru menghadapi kelas seperti itu, yaitu strategi pembelajaran klasikal, pembelajaran individual, dan pembelajaran berkelompok. Pembelajaran berkelompok merupakan cara yang paling efektif untuk menerapkan pembelajaran yang terpusat kepada siswa, karena lewat berkelompok akan dapat terpenuhi kebutuhan siswa. Mengelompokkan siswa memungkinkan mereka mengerjakan tugas yang sesuai dengan kebutuhan me-reka dan pembelajaran terpusat pada siswa bukan pada guru.

Perencanaan dan Pembuatan Program dalam Pembelajaran Kelas Rangkap
Dalam pembelajaran kelas rangkap, guru cukup membuat satu program saja untuk kelas yang berbeda dengan tujuan dan hasil yang berbeda untuk kelompok yang berbeda. Pembelajaran kelas rangkap tidak memerlukan kurikulum yang terpisah untuk masing-masing tingkatan/kelas, tetapi yang kita butuhkan adalah rangkaian peningkatan tantangan dalam pembelajaran, sehingga akan terpenuhi kebutuhan siswa masing-masing kelas. Bagaimana dengan pembuatan jadwal kegiatan kelas? Guru kelas rangkap cukup membuat satu jadwal yang terpadu (integrated) dan tidak perlu ada jadwal untuk tiap-tiap kelas secara berbeda-beda. Misalnya mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk satu jam pelajaran telah mencakup bagi semua siswa, demikian pula mencakup penugasan bagi masing-masing siswa dengan tingkat pengembangan materi yang berbeda.

Pada akhir tahun 70-an dan awal tahun 80-an Indonesia sudah mengenal adanya SD Kecil dan praktek perangkapan kelas khususnya untuk daerah-daerah terpencil. Keberadaan SD Kecil ini juga sudah diakui dan dimasukkan sebagai salah satu institusi yang melaksanakan Wajib Belajar 6 tahun pada tahun 1984. Pelaksanaan SD kecil ini kurang praktis dan tidak bisa menyebar karena adanya keharusan memakai modul-modul yang dikembangkan khusus untuk SD Kecil ini tapi cukup mahal, dan kurangnya pelatihan-pelatihan bagi para guru dan Kepala Sekolah SD Kecil. Disamping itu praktek perangkapan kelas hanya untuk menjawab kekurangan guru saja, bukan menjawab bagaimana kurangnya jumlah murid pada satu sekolah bisa disiasati tanpa memubazirkan guru.

Kita harapkan buku Pedoman yang baru ini bisa dipakai sebagai panduan mengajar, bukan saja di SD SD terpencil yang kekurangan guru, tapi juga di sekolah biasa yang kekurangan murid, termasuk di SD SD MBS kita. Tentu saja akan lebih ideal jika para gurunya juga diberi pelatihan yang memadai.

PAKEM

Apa itu PAKEM? 
PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.
Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya ("time on task") tinggi.

Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa. 

Secara garis besar, PAKEM dapat digambarkan sebagai berikut: 
• Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
• Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa. 
• Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’ 
• Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok. 
• Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

Bagaimana Pelaksanaan PAKEM? 
Gambaran PAKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama KBM. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut.